Mengapa Lagu Daerah Papua Pegunungan Tidak Pernah Ramai?

Related Articles

lagu daerah papua pegunungan

Pernahkah kita bertanya, mengapa lagu daerah Papua Pegunungan jarang terdengar di panggung besar?
Tidak di radio. Tidak di festival. Tidak pula jadi latar joget media sosial.

Jawabannya mungkin sederhana: karena sejak awal lagu itu tidak berniat ramai.

Di Pegunungan Tengah Papua, lagu bukan produk hiburan. Ia lahir dari peristiwa. Dari duka yang belum selesai. Dari tanah yang ditinggalkan. Dari ingatan yang ingin dijaga. Karena itu, lagu daerah Papua Pegunungan tidak mengenal konsep “penonton”. Yang ada hanyalah orang-orang yang hadir.

Nada-nadanya lirih. Kadang nyaris seperti bicara sendiri. Vokalnya tidak selalu indah menurut ukuran industri. Tapi justru di situ letak kekuatannya. Lagu ini tidak berusaha memikat. Ia hanya jujur.

Di kampung-kampung La Pago dan Me Pago, lagu dinyanyikan ketika ada yang pergi—entah pergi karena kematian, perang, atau merantau terlalu jauh. Lagu tidak menghibur. Ia menemani. Tidak menghapus luka. Ia mengakui luka itu ada.

Itulah sebabnya lagu daerah Papua Pegunungan sulit dipindahkan ke panggung. Ia terikat konteks. Terikat tanah. Terikat adat. Ada lagu yang hanya boleh dinyanyikan pada waktu tertentu. Ada pula yang tidak boleh dinyanyikan orang luar. Bukan karena tertutup, tapi karena ada etika.

Kita sering salah paham. Mengira lagu yang tidak populer berarti kalah kualitas. Padahal tidak semua musik diciptakan untuk bersaing. Sebagian diciptakan untuk bertahan.

Kalau kita dengar dengan saksama, jejak lagu Pegunungan ini pernah muncul dalam musik Papua modern. The Black Brothers, misalnya. Lagu seperti Hari Kiamat atau Derita Tiada Akhir tidak ramai karena iramanya. Lagu-lagu itu hidup karena kejujurannya. Karena berani bicara tentang ketidakadilan, tentang manusia yang terpinggirkan, tentang dunia yang bergerak tanpa menoleh ke belakang.

Bedanya, The Black Brothers menerjemahkan rasa Pegunungan ke format band agar bisa menyeberang pulau. Tapi akar emosinya sama: peringatan. Bukan hiburan.

Maka wajar jika lagu daerah Papua Pegunungan tidak pernah mengejar popularitas. Ia tidak dibuat untuk algoritma. Ia dibuat untuk ingatan kolektif. Untuk memastikan manusia tidak lupa pada asal-usulnya.

Hari ini, ketika semua hal berlomba menjadi viral, lagu ini justru mengajarkan sebaliknya: pelan. Tidak semua yang penting harus keras. Tidak semua yang bermakna harus ramai.

Barangkali tugas kita bukan membuat lagu daerah Papua Pegunungan menjadi populer. Tugas kita jauh lebih sederhana—dan lebih sulit: mendengarkannya dengan hormat. Tanpa memaksanya berubah. Tanpa merapikannya agar cocok dengan selera kita.

Karena mungkin masalahnya bukan pada lagu itu.
Mungkin kita yang terlalu bising untuk mendengar.

Dan di situlah ajakannya: mari belajar diam sejenak.
Sebab dari keheningan Pegunungan Papua, kita justru bisa mendengar sesuatu yang lama hilang—
suara manusia yang jujur pada hidupnya sendiri.

(red/rdn)

More on this topic

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertismentspot_img

Popular stories