
RiO de NARA tidak lahir dari rapat bisnis.
Ia lahir dari kegelisahan yang terlalu lama dipendam.
Frans Pigome tumbuh di tanah yang mengenal sungai bukan sebagai garis di peta, melainkan sebagai nadi kehidupan. Sungai adalah jalan, rumah, dapur, dan ingatan. Di situlah manusia belajar berjalan bersama alam, bukan di depannya, apalagi di atasnya. Maka ketika ia memilih nama RiO de NARA, itu bukan pencarian eksotik—melainkan pengakuan jujur pada asal-usul cara berpikirnya.
“Rio” adalah sungai—aliran waktu dan peradaban.
“NARA” adalah manusia—dalam dua makna yang bertemu: manusia sejati dalam filsafat tua, dan perahu panjang Kamoro yang membawa hidup, berpindah, bertahan, bahkan berperang jika harus. Di titik itulah Frans Pigome melihat satu benang merah: manusia hanya akan selamat jika ia tahu kapan harus mengemudi, dan kapan harus mengikuti arus.
RiO de NARA didirikan sebagai ruang sintesis.
Tempat Timur dan Barat tidak saling meniadakan, tetapi saling menahan diri. Tempat spiritualitas tidak diasingkan dari kerja nyata. Tempat kearifan lokal tidak dikerdilkan oleh bahasa global.
Bagi Frans Pigome, peradaban modern terlalu sering lupa bahwa kemajuan tanpa kesadaran hanya mempercepat tenggelam. Maka RiO de NARA menjadi perahu—bukan kapal pesiar. Ia tidak dibangun untuk berlari paling cepat, tetapi untuk mengangkut makna: musik, seni, lingkungan, kopi, dialog, dan manusia.
RiO de NARA adalah pengingat bahwa manusia sejati bukan yang menaklukkan sungai, melainkan yang mampu menyebrangi zaman tanpa kehilangan jati diri.
Dan di situlah Frans Pigome berdiri.
Bukan sebagai pemilik kebenaran, melainkan sebagai pendayung yang tahu: sungai akan selalu lebih besar dari kita—dan justru karena itu, kita harus belajar mendengarkannya.
(red/rdn)

