
RDN NEWS – Isu lingkungan di Jawa Barat belakangan ini kembali menemukan tempat di ruang publik. Bukan karena istilah teknis yang rumit, melainkan karena alam dibicarakan dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sungai, sawah, hutan, dan desa kembali hadir sebagai cerita bersama. Di titik inilah figur seperti Dedi Mulyadi atau KDM memainkan peran penting: membawa isu lingkungan turun dari meja kebijakan ke percakapan rakyat.
Namun, lingkungan tidak cukup hanya dipopulerkan. Ia perlu dirawat dengan pendekatan yang konkret dan berjangka panjang. Popularitas membuka pintu, tetapi substansi menentukan apakah sebuah gagasan akan bertahan. Di sinilah agroforestry menemukan relevansinya—terutama di Jawa Barat, wilayah dengan tekanan pembangunan tinggi dan keterbatasan ruang yang semakin nyata.
Agroforestry menawarkan jalan tengah yang sering luput dari perdebatan hitam-putih. Ia tidak menempatkan hutan dan ekonomi sebagai dua kubu yang harus saling mengalahkan. Dalam sistem ini, pohon utama tetap berdiri, sementara tanaman produktif seperti kopi, kakao, atau alpukat tumbuh di bawah naungan. Hutan tetap menjalankan fungsi ekologisnya, sementara masyarakat tetap memiliki sumber penghidupan yang berkelanjutan.
Praktik semacam ini bukan hal baru di Jawa Barat. Banyak Kelompok Tani Hutan dan koperasi desa telah lama menerapkannya, meski sering tanpa sorotan. Di wilayah pegunungan Garut, misalnya, kopi ditanam berdampingan dengan tanaman keras lain, menjaga tanah tetap subur dan air tetap mengalir. Kerja ini berlangsung pelan, tetapi konsisten—dan justru di situlah kekuatannya.
Bagi Frans Pigome, agroforestry bukan sekadar teknik tanam, melainkan cara pandang terhadap pembangunan. Berangkat dari pengalaman hidup di Papua—wilayah yang masyarakatnya terbiasa hidup berdampingan dengan alam—ia melihat bahwa konflik antara hutan dan ekonomi sering kali lahir dari pendekatan yang tergesa. “Pembangunan yang baik seharusnya tidak memaksa orang memilih antara menjaga hutan atau memenuhi kebutuhan hidup,” demikian pandangannya.
Apa yang terjadi di Jawa Barat menunjukkan bahwa pilihan itu sebenarnya tidak perlu. Ketika agroforestry dikelola dengan tata kelola yang jelas, pendampingan yang tepat, dan akses pasar yang adil, ia menjadi sistem yang tahan krisis. Petani tidak bergantung pada satu komoditas. Hutan tidak ditekan untuk memberi hasil instan. Risiko ekologis dan ekonomi sama-sama ditekan.
Tantangan terbesarnya justru terletak pada kesinambungan kebijakan. Agroforestry membutuhkan kesabaran—sesuatu yang sering tidak sejalan dengan siklus politik dan target jangka pendek. Ia tidak menghasilkan keuntungan spektakuler dalam hitungan bulan, tetapi membangun fondasi yang kokoh dalam hitungan tahun. Di sinilah kepemimpinan diuji: apakah mampu merawat proses, bukan sekadar mengejar hasil cepat.
Popularitas figur publik seperti KDM telah membantu membuka mata banyak orang bahwa isu lingkungan bukan barang elit. Tugas berikutnya adalah memastikan perhatian itu diterjemahkan menjadi kebijakan yang konsisten dan dukungan nyata di lapangan. Di titik ini, pemikiran-pemikiran seperti yang disampaikan Frans Pigome menjadi penting—sebagai penyeimbang antara semangat publik dan kedalaman kebijakan.
Agroforestry juga menawarkan pelajaran yang lebih luas bagi Indonesia. Negara ini terlalu sering terjebak pada dikotomi: hutan atau pembangunan, konservasi atau ekonomi. Padahal, pengalaman di Jawa Barat menunjukkan bahwa keduanya bisa berjalan bersama, jika dirancang dengan kerendahan hati dan pemahaman lokal.
Pada akhirnya, agroforestry bukan sekadar soal menanam pohon dan tanaman. Ia adalah pernyataan nilai. Bahwa pembangunan tidak harus merusak. Bahwa ekonomi rakyat tidak harus dibangun dengan mengorbankan alam. Dan bahwa kepemimpinan sejati sering kali hadir bukan dalam keputusan yang paling keras, melainkan dalam kebijakan yang paling sabar.
Dari Jawa Barat, kita belajar bahwa masa depan lingkungan Indonesia tidak selalu lahir dari terobosan besar. Ia tumbuh dari praktik-praktik yang dijaga dengan konsisten—di kebun, di hutan, dan di tangan masyarakat yang selama ini bekerja tanpa banyak sorotan. Agroforestry mengingatkan kita: ketika hutan dijaga, ekonomi justru menemukan pijakan yang lebih panjang.
(red/rdn)

