Harapan Baru: Papua dalam Bingkai Kebangsaan. Setiap pergantian tahun selalu membawa dua hal: evaluasi dan harapan. Papua pun demikian. Ia bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur, melainkan ruang hidup dengan sejarah panjang, identitas kuat, dan dinamika yang kompleks.
Selama ini, Papua sering dibicarakan dari kejauhan. Dibingkai oleh angka-angka kemiskinan, konflik, atau proyek strategis nasional. Jarang sekali ia dibaca sebagai subjek yang memiliki gagasan tentang masa depannya sendiri.
Padahal di kota-kota seperti Sorong, Timika, Jayapura, kehidupan berjalan sebagaimana kota lain di Indonesia. Pasar ramai, anak-anak berangkat sekolah, nelayan melaut, pengusaha kecil membuka toko, dan anak muda membangun komunitas kreatif. Papua tidak selalu tegang. Ia juga tumbuh.
Di titik inilah kebangsaan diuji. Apakah Indonesia melihat Papua hanya sebagai objek pembangunan? Atau sebagai mitra sejajar dalam menentukan arah masa depan?
Frans Pigome, dalam berbagai forum diskusi kebangsaan, sering menekankan bahwa Papua tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah pendekatan yang menghargai struktur sosial, adat, dan martabat masyarakatnya. Pembangunan tanpa dialog hanya akan menghasilkan jarak. Sebaliknya, pembangunan yang berangkat dari kepercayaan akan menumbuhkan rasa memiliki.
Kebangsaan bukan sekadar simbol. Ia adalah rasa aman untuk menjadi diri sendiri di dalam negara yang sama. Papua tidak ingin dipisahkan. Tetapi Papua juga tidak ingin dihapuskan identitasnya.
Memasuki tahun yang baru, pertanyaannya bukan lagi tentang siapa benar dan siapa salah. Pertanyaannya adalah: bagaimana kita memastikan bahwa setiap kebijakan lahir dari empati, bukan sekadar efisiensi?
Indonesia yang matang adalah Indonesia yang mampu mendengar suara paling jauh sekalipun. Dan Papua, dengan segala kompleksitasnya, bukan beban republik. Ia adalah cermin yang mengingatkan kita bahwa persatuan tidak pernah berarti penyeragaman.
Tahun boleh berganti. Tantangan boleh berubah. Tetapi komitmen untuk merawat kebangsaan harus tetap sama: menghormati manusia, menjaga tanah, dan membangun masa depan bersama.

