Kota bisa dinilai dari banyak hal. Gedungnya. Jalannya. Mall-nya. Tapi ada ukuran yang jauh lebih jujur: sampahnya.
Senin pagi, Kota Timika sempat memperlihatkan wajah yang berbeda. Petugas kebersihan mogok. Truk sampah berhenti bergerak. Beberapa titik kota mulai menumpuk kantong-kantong plastik.
Jumlah petugas kebersihan di bawah Dinas Lingkungan Hidup Mimika sekitar 182 orang. Mereka yang setiap hari mengangkut sampah dari rumah-rumah warga, pasar, hingga tempat pembuangan akhir.
Pekerjaan yang sering tidak terlihat, tetapi langsung terasa ketika mereka berhenti bekerja.
Kepala DLH Mimika, Jefri Deda, mengatakan pemerintah sudah melakukan komunikasi dengan para pekerja. Menurutnya, gaji dan THR sebenarnya sudah dibayarkan. Persoalan yang muncul lebih banyak terkait status kerja dan kelengkapan alat pelindung diri.
APD yang idealnya diberikan dua kali setahun, sementara hanya bisa diberikan sekali. Alasannya: efisiensi anggaran.
Masalah klasik birokrasi.
Anggaran terbatas. Status pekerja kontrak. Beban kerja tetap berjalan.
Namun satu hal terlihat jelas dari peristiwa kecil ini. Ketika petugas kebersihan berhenti bekerja hanya beberapa jam saja, kota langsung terasa berbeda.
Sampah adalah cermin paling jujur dari manajemen kota.
Kota yang rapi bukan hanya karena wali kota atau bupatinya hebat. Tetapi karena ada orang-orang yang setiap pagi mengangkat karung sampah dari pinggir jalan.
Mereka jarang disebut dalam pidato pembangunan.
Padahal tanpa mereka, wajah kota berubah hanya dalam hitungan jam.
Di banyak kota di dunia, pekerja kebersihan justru diperlakukan sebagai bagian penting dari sistem kota. Bukan sekadar tenaga kontrak yang statusnya tidak jelas.
Karena kota modern tidak hanya diukur dari tinggi bangunan.
Ia diukur dari satu hal sederhana: apakah sampahnya dikelola dengan baik.

