Surat Terbuka Untuk Bapak Presiden: Ketika Papua Mengetuk Istana

Related Articles

Ketika Papua Mengetuk Istana
Ketika Papua Mengetuk Istana

suara yang datang dari timur. Bukan suara marah. Bukan pula teriakan. Tapi suara yang lahir dari kerinduan panjang.

Pdt. Ham Tenouye, M.Mis, menulis sebuah surat terbuka kepada Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto. Surat itu bukan sekadar permohonan jabatan. Ia adalah refleksi tentang sejarah, martabat, dan masa depan orang Papua di atas tanahnya sendiri.

Isi surat itu jelas: rakyat Papua merindukan agar kekayaan alam merekaโ€”khususnya tambang emas yang dikelola PT Freeport Indonesiaโ€”dipimpin oleh putra asli Papua. Dan nama yang mereka ajukan adalah Frans Pigome, SE.


SURAT TERBUKA

Kepada Yth: Bapak
Prabowo Subianto ( PresidenRepublik Indonesia)
Di
Tempat.

Syalom sejarah dalam kasih Tuhan Yang Maha Esa. Papua adalah tanah yang dihuni oleh 8 Juta jiwa orang yang berambut keriting dan berkulit hitam pada beratus ribu tahun sebelum bangsa-bangsa berkulit putih dan berambut lurus datang hidup dan makan di atas negeri ini.

Namun saat ini penduduk asli Papua sudah menurun kira 3 juta jiwa khusus OAP di atas Tanah papua.

Papua bukan tanah kosong, Papua ada manusia yang memiliki gunung Emas memang kawi yaitu PTFI yang dikuasai oleh Amerika dan Indonesia pada tahun 1976 hingga saat ini sudah 59 tahun menggali emas berton-ton, tapi rakyat pemilik Tambang Emas hidup di bawah kemiskinan, tekanan, penindasan, dan juga dianggap musuh negara.

Setiap tanah dan dusun telah dibagi oleh sang Khalik supaya dapat mengelolah kekayaan alamnya, tetapi kami rakyat Papua juga sadar bahwa selama ini tidak ada orang Papua yang muncul untuk mampu memimpin perusahaan selevel PTFI sehingga perusahaan ini sudah dipimpin oleh sekian orang selama 59 tahun oleh orang-orang asing termasuk orang Indonesia.

Bpk Presiden RI, Prabowo Subianto yang terhormat, kami rakyat Papua sudah mempersiapkan diri untuk memimpin PTFI, untuk itu kami memohon kepada bapak untuk mengangkat dan melantik Kaka kami putra terbaik Papua yaitu Bpk FRANS PIGOME SE sebagai Presiden Direktur PTFI untuk menjadi tuan diatas tanahnya sendiri.

Kami rakyat Papua merasa ini yang terbaik, untuk mengantisipasi terjadinya gejolak sosial, politik dalam kalangan masyarakat Papua dan juga secara global.

Pernyataan sikap alasan Mengapa kami rakyat Papua sepakat Memohon Bpk FRANS PIGOME, SE diangkat sebagai Presiden PT.FI sbb:

Orang Papua selama ini diam karena tidak ada figur orang Asli Papua yang mampu memimpin perusahaan raksasa seperti PTFI selama 59 tahun. Tapi hari ini orang Papua sudah siap memimpin PTFI sesuai undang โ€“ undang Otonomi khusus Papua.
Orang Asli Papua sudah saatnya memimpin PT.FI untuk membendung dinamika konflik sosial, politik, ketimpangan ekonomi dalam kalangan masyarakat lokal dan masyarakat secara global.
PT.FI harus dipimpin oleh orang Papua untuk mensejahterakan masyarakat akar rumput dengan pendekatan hati-ke hati, supaya mereka bisa merasakan kesejahteraan dari hasil gunung emas mereka.

Bpk Presiden RI yang terhormat, mohon pertimbangkan permohonan kami dari rakyat pemilik Tambang Emas, ini sebagai permohonan pertama dan terakhir dari seluruh Rakyat dan alam semesta Papua dari Sorong sampai Meruke, bila Bpk tidak berkenan menerima permohonan ini, maka konsekuensinya rakyat dan alam Papua dengan terpaksa akan memilih jln sendiri untuk menentukan nasip dengan cara kami sendiri. Demikian permohonan kami kepada Bpk Presiden Prabowo Subianto, kiranya dapat mengabulkan permohonan ini, kiranya Tuhan yang maha Esa memberkati dalam tugas dan tanggung jawab.

Oleh:
Pdt. Ham Tenouye, M. Mis


Namun ada satu lapisan Sejarah yang menarik untuk dibaca ulang.

Tahun 1996. Lembang, Bandung. Sebuah foto langka kembali beredar. Dalam foto itu, Letjen TNI Prabowo Subiantoโ€”saat menjabat Komandan Jenderal Kopassusโ€”menyerahkan beasiswa penuh kepada seorang mahasiswa Papua: Frans Pigome.

Bukan mahasiswa biasa. Ia Ketua Umum Mahasiswa Irian Jaya se-Jawa dan Bali.

Frans mengenang momen itu:
โ€œWaktu itu Bapak Prabowo bilang, anak Papua harus sekolah tinggi, harus jadi pemimpin di masa depan. Dari situ saya dapat beasiswa penuh. Berkat beliau, saya bisa menyelesaikan kuliah.โ€

Dua puluh sembilan tahun berlalu.

Kini, ketika nama Frans Pigome disebut dalam surat terbuka untuk memimpin perusahaan tambang terbesar di Papua, sejarah seperti berputar.

Dulu seorang jenderal memberi beasiswa.
Hari ini seorang presiden menerima permohonan.

Di sinilah cerita Papua menjadi menarik. Ia bukan hanya soal tambang. Ia soal kesempatan. Soal kepercayaan. Soal apakah negara mau memberi ruang lebih besar kepada anak-anak tanahnya sendiri.

Dan seperti biasa, sejarah tidak pernah lahir dari kebetulan. Ia lahir dari keputusan.

More on this topic

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertismentspot_img

Popular stories