Mitos Orang Papua Malas, Ini Pandangan Frans Pigome

Related Articles

frans pigome
Frans Pigome – Founder RiO de Nara Institute

RDN News – Ada satu kalimat yang terlalu sering diulang hingga terdengar seperti kebenaran: “Orang Papua malas.”
Kalimat itu sederhana, tetapi di baliknya tersimpan sejarah panjang yang jarang dibuka dengan jujur.

Menurut Frans Pigome, mitos tersebut lahir bukan dari fakta, melainkan dari ketidakmampuan negara memahami cara hidup yang berbeda. Sejak masa kolonial, masyarakat di wilayah timur Nusantara dicap tidak produktif—bukan karena mereka tidak bekerja, tetapi karena cara hidup mereka tidak tunduk pada logika penguasa.

Orang Papua tidak hidup dengan jam absen. Mereka tidak menghitung hari dengan target laporan. Mereka hidup dari tanah, hutan, laut, dan sungai—ruang hidup yang mereka jaga turun-temurun. Dalam kacamata kolonial, cara hidup ini disebut primitif. Dalam bahasa hari ini, ia sering disebut tidak produktif. Istilahnya berubah, logikanya tetap sama.

Label malas kemudian berfungsi sebagai alat.
Alat untuk mengatakan tanah adat “menganggur”.
Alat untuk membuka jalan bagi proyek besar.
Alat untuk menyalahkan rakyat atas kemiskinan yang justru diciptakan oleh sistem.

“Padahal mereka bekerja,” kata Frans Pigome dalam sejumlah forum refleksi sosial. “Mereka bekerja untuk hidup, bukan untuk laporan laba.”

Di Papua, merawat sagu, berburu secukupnya, melaut sesuai musim, dan berkebun untuk komunitas adalah bentuk kerja. Namun karena kerja itu tidak masuk dalam logika ekonomi upahan, ia dianggap tidak ada. Negara lalu datang membawa definisi kemajuan yang seragam—dan bertanya mengapa rakyat tidak mengikutinya.

Ironisnya, ketika tanah diambil, hutan ditebang, dan laut dibatasi, negara kembali bertanya: “Mengapa mereka tidak maju?”
Jawabannya sederhana namun pahit: karena kemajuan itu tidak pernah dirancang bersama mereka.

Bagi Frans Pigome, membongkar mitos “orang Papua malas” bukan sekadar membela satu kelompok, melainkan mengoreksi cara berpikir pembangunan. Ia percaya, kepemimpinan yang matang bukanlah yang paling cepat menghakimi, melainkan yang paling sabar memahami.

Bangsa yang besar bukan bangsa yang memaksa semua warganya hidup dengan satu ukuran.
Melainkan bangsa yang mampu menghormati keragaman cara manusia bertahan hidup dengan bermartabat.

Dan di sanalah, menurut Frans Pigome, kebangsaan seharusnya dirajut—bukan dengan stigma, tetapi dengan kepekaan.

(red/rdn)

More on this topic

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertismentspot_img

Popular stories