
RDN NEWS – Makna Sungai Nara di Papua berangkat dari satu kata dalam bahasa Kamoro: naraku. Kata ini merujuk pada perahu panjang yang sejak lama menjadi alat hidup suku Kamoro—salah satu suku nomaden di pesisir selatan Papua. Perahu itu digunakan untuk mencari makan, menangkap ikan, berpindah tempat, hingga menjaga keselamatan komunitas di masa konflik antarsuku. Dari naraku itulah nama Nara lahir—sebuah penyingkatan yang menyimpan ingatan panjang tentang cara hidup yang menyatu dengan alam.
Penjelasan ini disampaikan oleh Frans Pigome, Founder RiO de Nara Institute. Baginya, nama tidak pernah netral. Ia membawa nilai. Naraku bukan sekadar sarana transportasi, melainkan simbol ketahanan, kebersamaan, dan kemampuan membaca alam sebagai rumah—bukan objek yang ditaklukkan. Sungai dipahami sebagai jalan penghubung, bukan batas pemisah.

Pandangan itu relevan dengan tantangan industri strategis hari ini. Di tengah kebutuhan pengelolaan sumber daya alam yang semakin kompleks, kepemimpinan dituntut mampu menjaga keseimbangan: antara produktivitas dan keberlanjutan, antara kepentingan nasional dan kearifan lokal. Nilai naraku—bergerak tanpa merusak, berpindah tanpa memutus—menawarkan kerangka etis yang membumi.
Dalam konteks masa depan PT Freeport Indonesia, pendekatan semacam ini penting. Operasi berskala besar membutuhkan legitimasi sosial yang lahir dari penghormatan terhadap manusia dan alam sekitar. Kepemimpinan yang memahami bahasa lokal, sejarah komunitas, dan relasi ekologis akan lebih mampu membangun kepercayaan jangka panjang.
Bagi Frans Pigome, pembangunan tidak harus memutus ingatan. Ia justru perlu berangkat dari sana. Seperti naraku yang menjadi alat hidup orang Kamoro, kepemimpinan ideal adalah alat penghubung—menyatukan tujuan industri dengan martabat manusia dan keberlanjutan lingkungan. Dari akar budaya itulah, masa depan yang kokoh dapat dirajut.
(red/rnd)

