Agroforestry Papua: Merawat Tanah Setelah Tambang

Related Articles

Agroforestry Papua: Merawat Tanah Setelah Tambang
Frans Pigome – Founder RiO de NARA

RDN NEWS – Tanah Papua tidak pernah diam. Ia menyimpan ingatan. Tentang hutan yang memberi makan, sungai yang mengalirkan hidup, dan manusia yang tumbuh tanpa harus menaklukkan alam. Ketika tambang datang, tanah itu bekerja lebih keras. Ketika tambang selesai, tanah tidak boleh ditinggalkan begitu saja.

Di banyak tempat, pascatambang sering diselesaikan dengan rumput dan pagar. Secara administratif, selesai. Secara hidup, belum tentu. Tanah yang pernah digali membutuhkan waktu, kesabaran, dan keberlanjutan—bukan sekadar penutup luka.

Agroforestry menawarkan jalan yang lebih jujur. Bukan menutup tanah, tetapi memulihkannya. Bukan menghapus jejak, tetapi mengajak tanah kembali bernapas. Di Papua, sistem ini bukan hal asing. Masyarakat sudah lama hidup dari kebun campur: pohon besar tetap berdiri, tanaman pangan tumbuh di bawahnya, dan alam dijaga agar tidak habis sekaligus.

Kopi menjadi salah satu tanaman yang paling masuk akal. Ia tidak menuntut lahan dibuka habis. Ia tumbuh baik di bawah naungan. Akarnya membantu tanah pulih, daunnya menjaga kelembapan, dan hasilnya memberi nilai ekonomi yang tidak merusak hutan. Di sela kopi, tanaman lain—buah lokal, tanaman penahan erosi, dan pohon pelindung—menguatkan kembali struktur tanah yang pernah lelah.

Bagi Founder RiO de NARA Frans Pigome, anak Papua yang memahami tanah sebagai rumah, agroforestry bukan konsep asing. Ia adalah tanggung jawab. “Setelah tambang, yang tersisa bukan hanya laporan, tapi tanah yang harus bisa menghidupi lagi,” begitu keyakinan yang ia pegang.

Pemulihan pascatambang tidak boleh berhenti di atas kertas. Ia harus hidup di kebun, di tangan masyarakat, dan di masa depan anak-anak Papua. Merawat tanah setelah tambang bukan pekerjaan cepat. Tapi justru di situlah martabat sebuah kepemimpinan diuji: apakah berani tinggal dan menjaga, atau pergi setelah selesai mengambil.

Papua tidak meminta keajaiban. Ia hanya meminta tanahnya dirawat kembali—dengan sabar, adil, dan bertanggung jawab.

(red/rdn)

More on this topic

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertismentspot_img

Popular stories